Friday, March 3, 2017

ASAL USUL KOTA CIANJUR

Pada suatu ketika, Pak Kikir merasa harus mengadakan selamatan. Menurut kepercayaan masyarakat, kalau cara selamatan dilakukan dengan baik, hasil panen akan baik pula. Pak Kikir tak ingin panennya gagal. Oleh karena itu, ia mengadakan selamatan dan mengundang seluruh warga.

Namun, Pak Kikir tidak menyediakan makan yang cukup bagi tamu sebagian besar warga tak mampu. Banyak tamu yang tidak kebagian makanan.

Lalu, datanglah seorang nenek pengemis. Ia meminta sedikit nasi untuk mengisi perutnya yang lapar, Namun si nenek malah dibentak olah Pak Kikir.

Nenek itu sangat sedih. Ia pun meninggalkan rumah Pak Kikir.

Anak pak Kikir yang melihat kejadian itu langsung mengambil jatah makannya dan mengejar nenek itu. "Ambillah makanan ini supaya Nenek tidak lapar lagi," kata pemuda baik hati itu.

"Terima kasih, Nak atas kebaikanmu. Kelak kau akan mendapatkan kebaikan dan  keselamatan karena sifatmu," kata si Nenek.

Nenek itu masih sakit hati pada pak Kikir. Lalu pergilah ia ke puncak bukit. Dari puncak bukit itu, tampaklah rumah pak Kikir paling besar dan paling megah di antara rumah warga sekitarnya.

Nenek itu berucap lantang. "Ingatlah, pak Kikir ketamakanmu akan menenggelamkan dirimu dan Tuhan akan membalas perbuatanmu!"

Si Nenek menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu mencabutnya lagi. Dari bekas tancapan tongkat itu, mengalirlah air yang semakin lama semakin deras menuju ke desa.

"Banjir! Banjir!" Para penduduk berteriak panik melihat air yang mengalir semakin deras menuju desa mereka. Mereka berlarian menyelamatkan keluarga mereka.

Anak pak Kikir pun segera memperingati semua penduduk agar mencari tempat aman. Ia juga mengajak ayahnya untuk meninggalkan rumah.

"Apa? Meningalkan rumah ini? Tidak ! Aku harus menyelamatkan harta yang kusimpan di bawah tanah!" seru pak Kikir. Ia pun berlari ke ruang bawah tanah dirumahnya.

Air semakin deras. Karena tak ada waktu lagi untuk menunggu ayahnya, anak pak Kikir pun berlari menyelamatkan diri ke atas bukit. Air bah itu pun segera menenggelamkan seluruh desa.

Anak pak Kikir dan sebagian penduduk selamat. Pak Kikir tenggelam bersama rumah dan harta bendanya. Para penduduk sangat sedih melihat desa yang tenggelam. Mereka memutuskan mencari daerah baru untuk tempat tinggal. Anak pak Kikir diangkat sebagai pimpinan.

Di daerah yang baru, anak pak Kikir menganjurkan penduduk mengolah tanah, bagaimana mengairi sawah dan menanam padi yang baik.

Desa baru itu lalu diberi nama "Anjuran" karena penduduk selalu mematuhi anjuran pemimpin mereka. Lama-kelamaan, desa itu berkembang menjadi sebuah kota kecil yang bernama "Cianjur". Ci artinya "air". Menurut cerita Cianjur berarti anjuran untuk mengairi dan membuat irigasi yang baik. Hingga sekarang, Cianjur terkenal dengan hasil berasnya yang enak.


ASAL USUL MADURA
Berdiri sebuah kerajaan megah diatas sebuah pegunungan Tengger. Kerjaan tersebut dikenal dengan sebutan kerajaan Madangkamulan. Madangkamulang merupakan sebuah kerajaan yang cukup terkenal pada masa itu terutama ditanah jawa bagian timur. Kerajaan yang sangat megah ini diperintah dan dipimpin oleh seorang raja yang sangat dihormati, disegani dan juga ditaati oleh seluruh rakyatnya. Raja tersebut bernama Prabu Gilingwesi. Untuk menjalankan pemerintahan dalam kerajaannya, Prabu Gilingwesi dibantu oleh seorang menteri cerdas dan cerdik yang bernama Patih Pranggulang.
Kehidupan dikerajaan Madangkamulan sangat adil dan makmur. Meskipun kerajaan tersebut adil dan makmur, ada satu hal yang membuat Prabu Gilingwesi agak bersusah hati. Hal tersebut dirasakannya karena Putri semata wayangnya yang sangat cantik jelita bernama Raden Ayu Tanjungsekar tidak mau memiliki suami. Padahal sudah banyak lamaran dari para putra raja dari kerajaan-kerajaan tetangga, setiap ada putra raja yang datang dengan untuk mempersuntingnya pasti sang putri selalu menolaknya, dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah belum waktunya ia berkeluarga.
Suatu malam yang sangat indah. Putri raja yaitu Tanjungsekar sedang tertidur sangat lelap. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi sedang berjalan-jalan ditaman yang sangat indah. Ketika Tanjungsekar menikmati segala keindahan yang terpancar dari taman tersebut, secara tiba-tiba bulan pernama menampakkan kehadirannya diatas langit yang bersih dari awan. Sang putri ketika melihatnya, sungguh dibuat kagum dengan indahnya pancaran sinar bulan yang sangat lembut.
Bulan yang ia lihat. perlahan-lahan turun dan mulai semakin rendah. Tanjungsekar heran dengan kejadian itu. Setelah bulan itu sangat dekat, bulan itu kemudian masuk dalam tubuh Tanjungsekar. Mengalami mimpi seperti itu, Tanjungsekar terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut atas mimpi yang datang menemaninya. Kemudian Tanjungsekar membangunkan penasehatnya, ia menanyakan tentang arti yang hadir dalam mimpinya.
Sang penasehatnya,mengatakan “Mimpi itu hanya bunga tidur saja, tidak yang perlu dirisaukan,”jawab sang penasehat kepada Tanjungsekar. “sebaiknya tuan putri lanjutkan tidurnya saja.”
Beberap bulan kemudian setelah mimpi aneh yang menghampiri Tanjungsekar. Tak disangka dan tak dinyata, tiba-tiba Tanjungsekar Hamil. Untung saja berita itu hanya diketahui oleh beberapa orang dikalangan kerajaan Madangkawulan, belum sampai tersebar ditelinga rakyat kerajaan.
Prabu Gilingwesi sangat terpukul perasaannya mendengar putrinya yang sangat dicintai hamil tanpa suami. Baginda raja yang bijaksana sangat heran mengap hal tersebut bisa terjadi, ia berfikir mengapa ada orang yang bisa masuk kedalam kamar putrinya, padahal penjagaanya sangat ketat sekali.
Kemudian Tanjungsekar dipanggil untuk menghadap baginda raja. Kemudain Tanjungsekar menjelaskan sebenarnya yang ia alami, ia menjelaskan kepada ayahnya bahwa sebelum ia hamil, ia  terlebih dahulu telah mengalami mimpi yang aneh, ada bulan purnama yang masuk kedalam tubuhnya. Akan tetapi, Prabu Gilingwesi tidak percaya begitu saja dengan penjelasan sang putri. Dengan wajah yang sangat marah, baginda raja memanggil menteri kepercayaannya, yaitu Patih Pranggulang.
Dengan nada yang sangat marah.”Patih, bawahlah Tanjungsekar kedalam hutan belantara. Kemudian, bunuhlah ia sebagai hukuma atas perbuatan dosa mencemarkan nama kerajaan Madangkawulan!”
Mendapatkan mandat dari seorang raja, Patih Pranggulangpun berangkat membawa Tanjungsekar menuju hutan. Setelah sehari semalam dalam perjalanan, sampailah mereka berdua disebuah hutan yang jauh dari kerajaan. Putri Tanjungsekar berhenti dan duduk diatas sebuah batu.
“Patih,Silahkan hukuman mati yang diperintahkan oleh raja untukku segeralah engkau laksanakan,” Ujar Tanjungsekar. Tapi ingat, kalau aku tidak bersalah, engkau tidak akan bisa membunuhku.
Patih Pranggulang pun mengambil senjata yaitu sebuah pedang dari sarungnya. Dengan sangat cepat Patih Pranggulang mengyunkan sabetan pedang kearah tubuh Tanjungsekar. Namun yang terjadi, sebelum tubuh Tanjung sekar terkena tajamnya pedang, tiba-tiba pedang yang akan disabetkan ditubunya terjatuh ketanah. Patih Pranggulang pun mengambil pedangnya yang terjatuh. Kemudian dicobanya lagi untuk mengayunkan pedangnya keleher Tanjungsekar, namun pedangnya terjatuh lagi. Tiga kali melakukan hal tersebut, namun gagal terus.
Dengan kejadian itu, Patih Pranggulang menyimpulkan dalam hatinya bahwa Tanjungsekar tidak bersalah sehingga tidak bisa dijatuhi hukuman. Kemudian ia pun bersujud dihadapan Tanjungsekar. Katanya,”Tuan putri sebaiknya segera pergi dari tempat ini. Saya akan membautkan rakit untuk tuan putri, naiklah dan sebrangilah lautan. Saya sendiri akan kembali kekerajaan. Saya akan bertapa sambil mendoakan tuan putri agar selalu dalam lindungan.”
Kemudian Patih Pranggulang membuat rakit, setelah jadi tanjung sekar pun naik diatas rakit tersebut untuk menyeberangi lautan. Perlahan-lahat rakit yang dinaikinya mulai bergerak meninggalkan sisi pantai. Makin lama makin jauh ketengah lautan. Patih pranggulang memperhatikan rakit yang dinaiki sang putri, cukup lama ia berdiri ditepi pantai. Setelah semalam, Patih Pranggulang masuk kedalam hutan. Sejak itu, ia mengganti namanya menjadi Ki Poleng.
Tanjung sekar beserta rakitnya dibawa alur arus laut kearah utara. Beberapa hari terkantung-kantung ditengah lautan. Tanjungsekar pasrah dengan ketentuan Tuhan, ia akan tetap tenang kemanapun rakit yang dinaikinya membawanya.
Suatu malam, bulan kembali purnama. Cahaya yang dipancarkan dari bulan tampak menerangi lautan yang berwarna hitam kebiru-biruan. Ketika bulan purnawa berada pada titik sempurna, tiba-tiba Tanjungsekar meraskan sakit diperutnya. Ternyata ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Lalu, bayi itu dipeluknya dengan hangat penuh kasih sayang. Karena lahir ditengah laut, Tanjungsekar memberi nama anaknya dengan nama Raden Segar. Istilah dijawa khususnya didaerah Madura Sagara artinya adalah Laut.
Setelah beberapa hari terombang-ombing dilautan bersama anaknya, ia melihat pulau. Kemudian rakit yang dinaikinya bergerak semakin mendekat kepulau itu. Melihat pulau tersebut, Tanjungsekar sangat senang sekali karena ia berpikir bahwa akan tinggal dipulau itu bersama anaknya.
Rakit yang dinaikinyapun berhenti ditepi pulau. Tanjungsekar segera turun dengan menggendong Raden Sagara. Setelah menginjakkan kakinya didarat, ada sebuah keajaiban yang terjadi. Raden Sagara meloncat ke tanah sambil berlari kesana kemari. Tubuhnya semakin besar seperti anak yang berumur dua tahunan.
Raden Sagara dan Tanjung sekar terus berjalan menyusuri daratan pantai. Pulau tersebut tampak sepi, mereka tidak menemukan aktivitas manusia disekitar pulau tersebut, hanya hewan-hewan yang melintas dihadapannya.
Setelah berjalan cukup lama, Raden Sagar dan ibunya tiba disuatu tanah yang cukup lapang. Disalah satu tempat ditanah lapang tersebut ada sebatang pohon. Kemudian Raden Sagara mendekati pohon itu. Raden Segara melihat sarang lebah yang besar disalah satu dahan dipohon itu. Saat Raden Sagara mendekat, lebah-lebah itu pergi beterbangan menjauhi sarangnya, seakan-akan memberikan ruang Raden Sagara untuk mengambil madu dan menikmatinya. Raden Sagarpun segera mengambil madu dan segera menikmatinya bersama Tanjungsekar.
Karena mereka berdua menemukan tanah lapang yang cukup luas, dan tempat itu kemudian diberi namaMADURA, yang berasal dari kata maddu e ra-ra. Yang artinya, madu di tanah daratan. Kemudian Tanjungsekar dan putranya tinggal dan menetap dipulau itu. Setelah tumbuh menjadi dewasa, Raden Sagara naik tahta sebagai raja yang kemudian memerintah Pulau Madura.



CERITA RAKYAT ASAL-USUL KOTA SURABAYA



Dahulu kala, di lautan nan luas (tepatnya di Laut Jawa), hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu sura dan seekor buaya. Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah. Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan. "Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu." kata ikan hiu Sura. "Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?" tanya Buaya. "Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!" "Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!" kata Buaya sambil mengangguk. Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya. cerita rakyat asal usul Surabaya " Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?" tanya si Buaya. "Eits... Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?" Kata Sura mengelak. "Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!" jawab Buaya ngotot. "Ohh... Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu ait" jawab Hiu Sura. "Hmm... Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?" hentak Buaya. "Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!" elak Sura. "Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!" jawab Buaya mulai marah. "Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!" serang Sura tak mau mengalah. Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.  cerita rakyat asal usul Surabaya Demikianlah cerita rakyat asal usul Surabaya. Semoga dari cerita tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa peperangan dan perkelahian tidaklah bisa menyelesaikan masalah dan malah justru akan menimbulkan masalah baru. Oleh karenanya, kita perlu arif dan bijaksana dalam menyelesaikan segala problematika kehidupan. yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya. cerita rakyat asal usul Surabaya Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan  untuk memberi nama Surabaya
pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.
KOTA SOLO BESERTA CIRI KHASNYA

Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 membelah kerajaan Mataram menjadi dua,Yogyakarta dan Surakarta. Dengan demikian terpecah pula kekuasaaan politik dan pusat kebudayaan Jawa menjadi dua. Persaingan dendam kultural di antara dua belahan kerajaan itu masih tetap membekas sampai kurun waktu yang lama. Hal ini sudah tercatat dalam sejarah, Historia Vitae Magistra , sejarah adalah sumber ilmu pengetahuan, demikianlah slogan bapak sejarawan dunia Herodatus 484 SM.

Ketika nama surakarta di deklarasikan oleh Pakoe Buwono 2, terdapat beberapa prasasti yang hingga saat ini masih ada, setidaknya ada tiga tonggak sejarah pendeklarasian nama Sala menjadi Surakarta. Namun selama ini masyarakat luas lebih mengenal sebutan Solo daripada nama resminya Kotamadya Surakarta, kota terbesar nomor dua di Jawa Tengah setelah Semarang,  ini berkembang dari nama Sala yaitu sebuah desa yang dahulu penuh rawa.


Desa Sala sendiri dan sekitarnya mulai ramai dan berubah menjadi sebuah kota sejak 20 Februari 1745 (17 Suro 1745, yaitu sejak berpindahnya pusat pemerintahan Mataram dari Keraton Kartasura ke Sala yang lantas dikenal dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat. Daerah yang digunakan sebagai tempat pusat pemerintahan yang baru ini disebut Sala, lantaran di desa ini waktu itu pernah hidup seorang tokoh masyarakat yang bijaksana bernama Kyai Sala. Selain itu desa ini juga berawa-rawa dan penuh pohon sala yaitu pohon tom atau nila, namun ada juga yang menyebut pohon sala sejenis pohon pinus.


Kendati berangkat dari nama Sala yang dilafalkan dengan Legena seperti mengucapkan Ponorogo atau Sitobondo, tetapi pada kenyataannya sampai sekarang masyarakat pada umumnya menyebut dengan Solo dilafalkan dengan Taling Tarung seperti mengucapkan Tokyo atau Jago. Bukan hanya masyarakat luar kota namun warga dalam Kota Surakarta sendiri menyebut Solo bahkan nama-nama yang menggambarkan identitas di daerah ini juga sangat mendukungnya. Taruhlah seperti Timlo Solo, Umuk Solo, Lontong Solo atau Wong Solo.


Menurut para pini sepuh sebutan Sala menjadi Solo katanya akibat kesalahan orang-orang Eropa dalam menyebut nama kota ini karena memang lidah mereka tidak seluwes lidah orang Indonesia. Bahkan orang Belanda lebih parah lagi, mengucapkan Sala menjadi Solo.


Bukan hanya orang asing saja tetapi sampai sekarang masyarakat Indonesia pada umumnya salah kaprah menyebut Solo untuk Surakarta. Padahal usaha untuk lebih memasyarakatkan nama resminya yaitu Surakarta telah dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain dalam peta bumi dan paket pariwisata tertulis dengan nama Surakarta. Tetapi rupanya Kota Solo lebih mudah dilafalkan orang daripada nama resminya sendiri. Penggunaan nama Solo dalam pandangan marketing memang terdengar lebih akrab, lebih menjual,  lebih mudah diingat dalam pengucapannya.


surakarta  (Hanacaraka: juga disebut Solo atau Sala ) adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang berpenduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan penduduk 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2 ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Solo merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755.


Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta dan 100 km tenggara Semarang serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu dan Merapi (tinggi 3115m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (tinggi 2806m) di bagian timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes. Mata air bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik. Ketinggian rata-rata mata air adalah 800-1.200 m dpl. Pada tahun 1890 – 1827 hanya ada 12 sumur di Surakarta. Saat ini pengambilan air bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang berlokasi di 23 titik. Pengambilan air tanah dilakukan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol. 


Sampai dengan Maret 2006, PDAM Surakarta memiliki kapasitas produksi sebesar 865,02 liter/detik. Air baku berasal dari sumber mata air Cokrotulung, Klaten (387 liter/detik) yang terletak 27 km dari kota Solo dengan elevasi 210,5 di atas permukaan laut dan yang berasal dari 26 buah sumur dalam, antara lain di Banjarsari, dengan total kapasitas 478,02 liter/detik. Selain itu total kapasitas resevoir adalah sebesar 9.140 m3.Dengan kapasitas yang ada, PDAM Surakarta mampu melayani 55,22% masyarakat Surakarta termasuk kawasan hinterland dengan pemakaian rata-rata 22,42 m3/bulan.


Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akibat aktivitas vulkanik Merapi dan Lawu. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan air yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini sangat baik untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu. Namun demikian, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata berkembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan untuk kegiatan industri dan perumahan penduduk.


Menurut klasifikasi iklim Koppen, Surakarta memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, musim hujan di Solo dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di Solo adalah 2.200 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius. Suhu udara tertinggi adalah 32,5 derajat Celsius, sedangkan terenda adalah 21,0 derajat Celsius. Rata-rata tekanan udara adalah 1010,9 MBS dengan kelembaban udara 75%. Kecepatan angin 4 Knot dengan arah angin 240 derajat.


Salah satu sensus paling awal yang dilakukan di wilayah Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) pada tahun 1885 mencatat terdapat 1.053.985 penduduk, termasuk 2.694 orang Eropa dan 7.543 orang Tionghoa. Wilayah seluas 5.677 km² tersebut memiliki kepadatan 186 penduduk/km². Ibukota karesidenan tersebut sendiri pada tahun 1880 memiliki 124.041 penduduk.


Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2010 adalah 503.421 jiwa, terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, yang tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan dengan daerah seluas 44,1 km2. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Catatan dari tahun 1880 memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa. Pertumbuhan penduduk dalam kurung 10 tahun terakhir berkisar 0,565 % per tahun.Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/km2, yang merupakan kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2).


Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia. 


Obyek/Tempat Wisata Terkenal Di Solo


1. Keraton Surakarta Hadiningrat
Keraton yang didirikan pada tahun 1744 oleh Susuhunan Pakubuwono II ini teletak di dekat alun alun Surakarta. Keraton ini buka setiap hari untuk umum. Di halaman area keraton yang berpasir dan ternyata pasir tersebut diambil dari laut selatan. Didalam terdapat sebuah museum tempat menyimpan barang barang peninggalan sejarah yang menceritakan sejarah kota Solo seperti kereta kuda, pakaian raja raja terdahulu, dan peralatan perang. Kita bisa menjelajahi keraton Solo ini menggunakan guide atapun dengan berjalan sendiri.
2. Pura Mangkunegaran 
Tempat adalah sebagai kediaman Sri Paduka  Mangkunagara yang didirikan tahun 1757. Bentuk pura Mangkunegaran ini layaknya keraton, namu dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan ini terbuat dari kayu jati utuh. Di tempat ini kita bisa melihat berbagai koleksi sejarah seperi peralatan tari, wayang, gamelan dan barang barang bersejarah lainnya.
Selain 2 tempat diatas ada beberapa tempat wisata sejarah lain seperti :
3. Candi Sukuh
4. Candi Cetho
5. Museum manusia Purba yang ada di Sangiran Sragen
6. Museum Batik Kuno Danar Hadi
7. Museum Pers

Tempat Wisata Alam di Solo

1.      Sungai Bengawan Solo
2.      Air terjun Grojogan Sewu
3.      Air Terjun Segoro Gunung
4.      Air Terjun Parang Ijo
5.      Pegunungan Tawang Mangu
6.      Gunung Kemukus Yang ada di Sragen
7.      Waduk Gajah Mungkur
8.      SSB (Solo Selo Borobudur)
9.      Sondokoro
10.  Taman BalekambangTaman yang terletak di belakang Stadion Manahan Solo ini menawarkan suasana yang sejuk karena kita duduk ditemani rindangnya pepehonan dan terdapat juga kolam ikan dan kandang rusa. untuk dapat menikmati taman ini pengunjung tidak dikenakan biaya alias gratis, tapi pada saat event event tertentu akan dikenakan biaya masuk

Tempat Wisata Belanja di Solo

1.      Solo Square (Mal di Solo)
2.      Pasar Tradisional Klewer – Tempat beli batik murah
3.      Pasar Triwindu (Pasar Barang Antik)
4.      Kampung Batik Laweyan
5.      Pasar Klitikhan Notoharjo.
6.      Pasar Keris dan Cenderamata Alun-Alun Utara Kraton Solo.
Selain tempat wisata diatas kita bisa mencoba menaiki bisa tingkat seperti di luar negeri untk berkeliling Jalan Kota Solo dan tiap tahun sekali kita bisa melihat parade kostum batik yang diadakan di salah satu jalan yang dinamakan Solo Batik Carnival. Selain SBC, Di Solo juga diadakan acara Sekaten. Sekaten merupaan acara yang bertepatan dengan maulud  Nabi Muhammad SAW. Salah satu dari acara Sekaten adalah terdapatnya pasar malam  Sekaten. adanya wahana hiburan seperti ombak banyu dan berbagai lapak yang menjual berbagai mainan dan souvenir ada dalam pasar malam ini.Itulah beberapa tempat wisata di Solo yang menarik untuk anda kunjungi.
Kuliner Khas Kota Solo
Cabuk Rambak 
adalah makanan dengan menu utama ketupat.  Memakai ketupat yang disebut Gendar Janur, karena beras ini dimasak didalam anyaman janur / daun kelapa yang masih muda.
Yang membedakan dengan makanan ketupat  di daerah lain adalah bumbunya. Bumbu Cabuk Rambak memakai wijen yang digoreng bersama santan kelapa, cabal, bawang putih, kemiri dan gula merah.
Makanan istimewa ini disantap dengan Karak, sejenis kerupuk dengan bahan dasar beras. Lebih unik lagi, karena untuk menikmati kita mempergunakan lidi.
Pecel Ndeso
Entah mengapa namanya "Pecel Ndoso" yang jelas makanan ini enak sekali.. Sayur pecel tapi makanya mengunakan nasi merah.... ini hanya ada di Kota Solo lho....
Penjual ini mangkal di teras pasar Gede Solo
Dawet Tlasih
Dawet Pasar Gede ini adalah minuman khas Solo yang selalu membuat kangen warga Solo yang telah lama merantau. Sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan minuman dawet lainnya. Tetapi satu yang membuat istimewa dan selalu ingin dinikmati adalah rasanya yang berbeda serta lokasinya yang sudah dikenal banyak orang.
Minuman dengan isi biji telasih, ketan hitam, nangka, bubur sumsum, cendol dengan kuah santan yang diberi pemanis dari gula merah.
Sate Kere
Namanya yang unik tak berbeda pula dengan rasanya. Pada dasarnya pembuatan sate ini sama seperti sate pada umumnya,. Hanya saja sate ini bahannya bukan daging tapi gembus (ampas tahu yang direbus).Maka tak heran jika disebut sate kere
Sate Buntel
Salte Bunte adalah sate kambing khas Kota Solo yang terbuat dari daging kambing yang dicincang, diberi bumbu bawang dan merica dan kemudian di-buntel (dibungkus) dengan lemak kambing. Dimakan bersama kecap, irisan cabe rawit, bawang merah, irisan kol dan tomat.
Tengkleng
Tengkleng merupakan makanan semacam gulai kambing tetapi kuahnya tidak memakai santan. Isi tengkleng adalah tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel, bersama dengan sate usus, sate jerohan, otak dan juga organ-organ lain seperti mata, telinga,pipi kaki dan lain-lain.
Kenikmatan menyantap Tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang menempel pada tulang dan mengisap-isap isi tulangnya.



Sejarah dan Asal Usul Kota Demak

Selama kurang lebih 6 abad silam dan letak geografisnya, sebuah kawasan bernama Demak ternyata tidak terletak seperti sekarang ini. Sekurang-kurangnya berada di pedalaman yang jaraknya 30 km dari bibir laut Jawa dan berada di dekat Sungai Tuntang yang bersumber dari Rawa Pening. Dahulu, Demak terletak di tepi laut/ Selat Silugangga yang memisahkan antara Pulau Muria dengan Jawa Tengah.
DR.H.J. De Graaf menulis dalam bukunya menuliskan bahwa letak Demak sangat cocok untuk dijadikan kegiatan perdagangan dan pertanian. Hal ini dikarenakan selat di depannya cukup lebar menjadi pusat kegiatan masyarakat, sehingga perahu dari Semarang sampai ke Rembang busa dengan bebas berlayar melalui Demak. Namun, pada abad XVII Pulau/Selat Muria mengalami pendangkalan dan tidak bisa dipakai lagi sebagai tempat berlayar.
Penobatan Raden Patah menjadi Sultan Demak Bintoro pada tanggal 12 Rabiulawal (Mulud) Tahun 1425 Saka/ 28 Maret 1503 M, ditetapkan juga menjadi hari jadi Kota Demak. Menurut Babat Tanah Jawa, nama Demak berawal dari perintah Sunan Ampel (Sang guru) kepada Raden Patah agar merantau ke arah Barat. Atas perintah dan restu sang guru, akhirnya Raden Patah berangkat hingga menemukan hutan/tanaman Gelagah Wangi yang terletak di Muara Sungai Tuntang yang bersumber dari lereng Gunung Merbabu (Rawa Pening).
Setelah hutan/tanaman Gelagah Wangi ditebang dan dijadikan tetrukan (pemukiman), barulah nama Bintoro muncul yang berasal dari kata Bethoro atau dalam penganut agama Hindhu sebagai bukit suci. Pada kawasan bukit suci/ Gunung Bethoro (Prawoto) itulah sekarang masuk ke dalam daerah Kabupaten Pati.
Ada beberapa sumber lain yang menyebutkan nama bintoro diambil dari sebuah pohon Bintoro yang dulunya tumbuh banyak di sekitar Gelagah Wangi. Pohon Bintoro mempunyai ciri batang, daun dan bunganya yang hampir mirip pohon kamboja (apocynaceae).
Namun, ada beberapa pakar mendefinisikan Demak dalam berbagai penafsiran. Prof. DR. Hamka menafsirkan kata Demak berasal dari bahasa Arab “Dama” yang berarti mata air. Prof. Slamet Mulyono menafsirkan kata Demak dari bahasa jawa kuno "Damak" yang artinya anuerah. Sholihin Salam seorang penulis menjelaskan Demak berasal dari bahasa arab "Dzimma in" yang mempunyai arti sesuatu yang mengandung air (rawa). Atau dari bahasa Sansekerta, Demak berasal dari "Delamaka" yang berarti rawa.


ASAL USUL SEJARAH KOTA TEGAL


Cultural heritage dan living cultural yang tersisa dan hidup di kawasan tersebut adalah suatu bukti adanya kekayaan sejarah sebuah kota atau kawasan. Keduanya merupakan warisan peradaban umat manusia.
Demikian halnya dengan Kabupaten Tegal, Wilayah yang kaya akan jejak peninggalan kesejarahan sebagai penanda bahwa Kabupaten Tegal sebagai tlatah kawasan tak dapat dilepaskan dari keterkaitan garis sejarah hingga membentuk kawasan sekarang ini.
Kota Tegal merupakan penjelmaan dari sebuah desa yang bernama “Teteguall yang pada tahun 1530 telah nampak kemajuannya dan termasuk wilayah Kabupaten Pemalang yang mengakui Trah (Kerajaan) Pajang. Ada beberapa sumber mengatakan sebutan teteguall  diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955) yang memiliki arti tanah subur  yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984).
Secara historis dijelaskan bahwa eksistensi sejarah tlatah Kota Tegal tidak lepas dari ketokohan  Ki Gede Sebayu. Namanya dikaitkan dengan trah Majapahit, karena sang ayah Ki Gede Tepus Rumput (kelak bernama Pangeran Onje) ialah keturunan Batara Katong Adipati Ponorogo yang masih punya kaitan dengan keturunan dinasti Majapahit .
Penekanan pada bidang pertanian, tak dapat dilepaskan dari kondisi wilayah dan akar kesejarahan tlatah Kabupaten Tegal yang mengembangkan kapasitasnya selaku wilayah agraris. Tradisi keagrarisan dimulai dari ketokoan Ki Gede Sebayu juru demung trah Pajang. Bangsawan ini (Ki Gede Sebayu) adalah saudara dari Raden Benowo. Bahkan kalau dirunut keagrarisan itu dimulai semenjak Mataram Kuno. Selain berhasil memajukan pertanian, beliau juga merupakan ahli agama yang telah membimbing warga masyarakat dalam menanamkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas keberhasilan usahanya memajukan pertanian dan membimbing warga masyarakat dalam menanamkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, beliau diangkat menjadi pemimpin dan panutan warga masyarakat. 
Ki Gede Sebayu, yang masih keturunan trah Majapahit. Beliau memilih diam cegah dhahar lawan guling, karena prihatin. Bahkan pada saat suasana makin kacau karena perang saudara, Ki Ageng Ngunut (kakek Sebayu) mendesak Sebayu agar menyelamatkan Kerajaan Pajang. Namun, Sebayu menolak. Karena tidak merasa tega melihat penderitaan manusia akibat perebutan kekuasaan antar keluarga itu tidak kunjung reda. Beliau melepas atribut kebangsawanannya dan mengembara mencari hakekat hidup. Sampailah dia di sebuah daerah penuh ilalang, padang rumput luas dengan sungai yang dialiri air yang bening sampai muara laut. Sungai itu adalah sungai Gung (Kali Gung). Sungai ini dinamakan Kali Gung sebab bersinggungan dengan mata air yang berasal dari Gunung Agung yakni sebuah nama kuno dari Gunung Slamet dan bermuara ke utara hingga laut jawa.
Beliau terperangah melihat hamparan padang rumput luas yang nyaris tak berpenghuni itu. Ditengah- tengah hamparan padang rumput luas itu, ki gede Sebayu temukan Persinggahan disana hanya ada beberapa bangunan semipermanen yang dihuni sejumlah santri dan sebuah makam keramat.
Makam tersebut adalah tempat jenazah Sunan Panggung atau Mbah Panggung dikebumikan (sekarang bernama Desa Panggung). Mbah Panggung yang bernama asli As sayid al habib Abdurrohman as segaf putra dari Sunan Drajat dan Dewi Condrowati yang merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).
Terbersitlah di benak Sebayu untuk mengajari warga pesisir itu bercocok tanam. Dia merasa menemukan persinggahan yang menjanjikan, sehingga menghentikan pengembaraannya. Diajaknya warga setempat membabat alang-alang agar jadi tegalan. Selain itu, dia juga membuat bendungan di hulu sungai daerah Danawarih untuk dijadikan sumber air irigasi. Kesaksian ini diperkuat denga ditemukannya artefak kuno dan candi di desa Pedagangan. Ditambah tlatah Tegal kerapkali dikaitkan dengan kerajaan Pajang dan Mataram Islam yang cenderung kekuasaan dengan basis pada agraris ( De Graaf, 1986).
Sementara itu, setelah perang panjang antar saudara mulai dingin Pangeran Benowo diangkat menjadi raja Pajang. Dia membutuhkan sepupunya. Sebayu, untuk menjadi patih. Dia pun mengutus sejumlah prajurit untuk mencari Sebayu. Di Desa Teteguall, tempat Sebayu bermukim, sepupu Benowo itu ditemukan. Namun, karena Sebayu tidak mungkin meninggalkan rakyat Teteguall, karena alasan tersebut Pangeran Benowo melantik dia menjadi juru demang atau sesepuh Desa Teteguall. Anugerah sebagai sesepuh desa diberikan pada malam Jumat Kliwon, 15 Sapar Tahun 988 Hijriah, atau tahun 588 EHE. Waktu itu bertepatan dengan 12 April 1580 Masehi.
Pengangkatan Ki Gede Sebayu menjadi Pemimpin pertama Tegal dilaksanakan pada perayaan tradisional setelah menikmati hasil panen padi dan hasil pertanian lainnya. Dalam perayaan juga dikembangkan ajaran dan budaya agama islam yang hingga sekarang masih berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Hari, tanggal dan tahun Ki Gede Sebayu diangkat menjadi Juru Demung (Bupati) itu ditetapkan sebagai hari jadi Kota Tegal dengan peraturan Daerah No.5 tahun 1988 tanggal 28 Juli 1988


ASAL USUL KOTA YOGYAKARTA

Sejarah
Antara tahun 1568-1586 di pulau Jawa bagian tengah, berdiri Kerajaan Pajang yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya, dimana semasa mudanya beliau terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Dalam pertikaian dengan Adipati dari daerah Jipang yang bernama Arya Penangsang, beliau berhasil muncul sebagai pemenang atas bantuan dari beberapa panglima perangnya, antara lain adalah Ki Ageng Pemanahan dan putera kandungnya yang bernama Bagus Sutawijaya, seorang Hangabehi yang bertempat tinggal di sebelah utara pasar dan oleh karenanya beliau mendapat sebutan Ngabehi Loring Pasar

Sebagai balas jasa kepada Ki Ageng Pemanahan dan puteranya itu. Sultan Pajang kemudian memberikan anugerah sebidang daerah yang disebut Bumi Mentaok, yang masih berupa hutan belantara, dan kemudian dibangun menjadi sebuah "tanah perdikan".

Sesurut Kerajaan Pajang, Bagus Sutawijaya yang juga menjadi putera angkat Sultan Pajang, kemudian mendirikan Kerajaan Mataram di atas Bumi Mentaok dan mengangkat diri sebagai Raja dengan gelar Panembahan Senopati.

Pada permulaan abad ke-18, Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Paku Buwono II. Setelah beliau wafat, terjadilah pertikaian keluarga, antara lain salah seorang putera beliau dengan salah seorang adik beliau, yang merupakan pula hasil hasutan dari penjajah Belanda yang berkuasa saat itu. Pertikaian itu dapat diselesaikan dengan baik melalui perjanjian Giyanti, terjadi pada tahun 1755, yang isi pokoknya adalah Palihan Nagari, yang artinya pembagian Kerajaan menjadi dua. Yakni Kerajaan Surakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan putera Sunan Paku Buwono III, dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono ke I. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini kemudian disebut sebagai Jogyakarta dan sering disingkat menjadi Jogja.

Pada tahun 1813, Sri Sultan Hamengku Buwono I, menyerahkan sebagian dari wilayah Kerajaannya yang terletak disebelah barat sungai Progo, kepada salah seorang puteranya yang bernama Pangeran Notokusumo untuk memerintah di daerah itu secara bebas, dengan kedaulatan yang penug. Pangeran Notokusumo selanjutnya bergelar sebagai Sri Paku Alam I, sedangkan daerah kekuasaan beliau disebut Adikarto.