Friday, March 3, 2017

Asal Usul Kota Malang Jawa Timur

Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.

Wilayah cekungan (dataran rendahnya) Malang telah sejak masa purbakala menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah. Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas pondasi batu bata, bekas salurandrainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9). 
Nama "Malang" sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama "Malang". Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut. Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang.

Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang. Pihak yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuka, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari.

Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi daerah Blitar. Dalam prasati itu tertuliskan" taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran ". Yang Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : " Di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa", Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi. Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata "Membantah" atau "Menghalang-halangi" (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang.

Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang. Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.

"Malang tempoe doeloe"
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya ”Ijen Boullevard” dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.

Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah “Gemente” (Kota). Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terdapat tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi : “Malangkucecwara”. Semboyan baru ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, karena kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkucecwara.

Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

  1. Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
  2. Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
  3. Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
  4. Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
  5. 1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
  6. 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
  7. 21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
  8. 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
  9. 2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
  10. 1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.
Budaya dan Tradisi : 

  • Kekayaan etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng gunung Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang.
  • Di kota Malang juga terdapat tempat yang merupakan sarana apresiasi budaya Jawa Timur yaitu Taman Krida Budaya Jawa Timur, di tempat ini sering ditampilkan aneka budaya khas Jawa Timur seperti Ludruk, Ketoprak, Wayang Orang, Wayang Kulit, Reog, Kuda Lumping, Sendra tari, saat ini bertambah kesenian baru yang kian berkembang pesat di kota Malang yaitu kesenian “BANTENGAN” kesenian ini merupakan hasil dari kreatifitas masyarakat asli malang, sejak dahulu sebenarnya kesenian ini sudah dikenal oleh masyarakat malang namun baru sekaranglah “BANTENGAN” lebih dikenal oleh masyarakat tidak hanya masyarakat lokal namun juga luar daerah bahkan mancanegara. Khusus di Malang sering diadakan pergelaran bantengan hampir setiap perayaan hari besar baik keagamaan maupun peringatan hari kemerdekaan.
  • Festival tahunan yang menjadi event ikon kota juga sering diadakan setiap tahunnya. Beberapa festival kota tahunan diantaranya adalah:
  • Festival Malang Kembali: Diadakan untuk memperingati HUT Kota Malang, biasa digelar pada tanggal 21 Mei. Festival ini mengusung situasi kota pada masa lalu, mengubah jalan-jalan protokol kota menjadi museum hidup selama kurang lebih 1 minggu festival ini diadakan.
  • Karnaval Bunga, Karnaval Lampion: Biasa diadakan untuk merayakan hari raya imlek.
Julukan Kota Malang : 


  1. Paris van East Java, karena kondisi alamnya yang indah, iklimnya yang sejuk dan kotanya yang bersih, Malang bagaikan kota “Paris“-nya Jawa Timur.
  2. Kota Wisata, kondisi alam yang elok dan menawan, bersih, sejuk, tenang dan fasilitas wisata yang memadai merupakan ciri-ciri sebuah kota tempat berlibur.
  3. Kota Pendidikan Internasional, situasi kota yang tenang, penduduknya ramah, harga makanan yang relatif murah dan fasilitas pendidikan yang memadai sangat cocok untuk belajar/menempuh pendidikan. Sedikitnya ada lima universitas negeri yang berdiri di Malang: Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Malang, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Kesehatan Malang dan puluhan atau mungkin ratusan PTS.
  4. Kota Militer, terpilih sebagai Kota Kesatrian. Di kota Malang ini didirikan tempat pelatihan militer, asrama dan mess perwira di sekitar lapangan Rampal, dan pada zaman Jepang dibangun lapangan terbang “Sundeng” di kawasan Perumnas sekarang, selain itu juga ada pabrik amunisi, senjata & kendaraan tempur, Pindad, di Turen, Kabupaten Malang .
  5. Kota Sejarah, sebagai kota yang menyimpan misteri embrio tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Tumapel, Kanjuruhan, Singosari, Kediri (Dhoho), Mojopahit, Demak dan Mataram. Di kota Malang juga terukir awal kemerdekaan Republik bahkan kota Malang tercatat masuk nominasi akan dijadikan Ibukota Negara Republik Indonesia.
  6. Kota Bunga, cita-cita yang merebak di hati setiap warga kota senantiasa menyemarakkan sudut kota dan tiap jengkal tanah warga dengan warna-warni bunga.
  7. Kota Olahraga, Banyak lahir bibit-bibit olahragawan yang berasal dari malang, yang paling terkenal dengan olah raga sepak bolanya terbukti dengan berdirinya 2 team sepak bola seperti Persema dan Arema yang mempunyai prestasi cukup baik di tingkat regional dan nasional,di tambah lagi supporter yang sangat fanatik dan atraktif Ngalamania serta Aremania.
  8. Kota Apel, mempunyai produksi apel yang melimpah berpusat di wilayah Kota Batu dan Poncokusumo sehingga banyak di ekspor ke dalam dan luar negeri. Disana apel diolah menjadi bermacam-macam makanan maupun minuman, Contohnya Sari apel, Keripik Apel, Manisan dll.
  9. Kota Susu, mempunyai produksi susu skala nasional dan internasional yang produksinya terletak di wilayah Pujon Kabupaten Malang. Susu yang didapatkan berasal dari sapi luar negeri sehingga susu yang diperoleh mempunyai kualitas bagus.
  10. Kota Dingin, karena memiliki letak geografis yang dikelilingi pegunungan, Gunung Arjuno, Welirang, Gunung Kawi, Gunung Bromo, Semeru.
  11. Kota Pelajar, karena malang memiliki banyak universitas negeri ataupun swasta yang cukup terkenal sehingga banyak orang dari luar pulau yang pindah ke Malang untuk mencari pendidikan yang lebih baik dari kota lain.
  12. Kota Kuliner, Di malang banyak sekali jenis makanan khas yang menggugah selera banyak wisatawan.
SEJARAH KOTA JAKARTA & CIRIKHASNYA

Ulasan  Sejarah

Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.


Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa.


Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.


Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar.


Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.


MENGAMATI kota Jakarta bagaikan membaca catatan panjang yang merekam berbagai kejadian masa lalu. Berbagai bangunan dan lingkungan di Jakarta menyimpan jejak-jejak perjalanan masyarakatnya, bagaimana mereka bersikap menghadapi tantangan zamannya, memenuhi kebutuhan hidupnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia menyimpan suka-duka dan pahit-manisnya perkembangan, di mana kita dapat menyerap pelajaran yang berharga.


Jakarta, Ibukota Republik Indonesia, memiliki banyak rekaman sejarah. Antara lain dalam bentuk bangunan maupun lingkungan. Di dalamnya tercermin upaya masyarakat masa lalu dalam membangun kotanya yang tak luput dari berbagai masalah dari zaman ke zaman.


“Jika kita memandang kota Jakarta sekarang, mungkin sulit terbayang bahwa ribuan tahun yang lalu kawasan ini masih baru terbentuk dari endapan lumpur sungai-sungai yang mengalir ke Jakarta. Misalnya Kali Ciliwung, Kali Angke, Kali Marunda, Kali Cisadane, Kali Besar, Kali Bekasi dan Kali Citarum. Usia dataran Jakarta kini diperkirakan 500 tahun berdasarkan geomorfologi, ilmu lapisan tanah.


Endapan ini membentuk dataran dengan alur-alur sungai yang menyerupai kipas. Dataran ini setelah mantap lama kelamaan dihuni orang dan terbentuklah beberapa kelompok pemukiman, di mana salah satunya kemudian berkembang menjadi pelabuhan besar, " kata Muhammad Isa Ansyari SS, Sejarawan Terkemuka di Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemda DKI Jakarta.


Ia menuturkan, kota Jakarta merupakan kota yang berkembang dengan cepat sejak mendapat peran sebagai Ibukota Rl. Perkembangan itu disebabkan oleh faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang saling menjalin satu sama lain.

Bermula dari sebuah lingkungan pemukiman kecil dengan kegiatan hidup terbatas, dan kemudian berkembang menjadi lingkungan pemukiman megapolitan dengan berbagai kegiatan yang amatkompleks. Dalam paparan sejarah pertumbuhannya, di mana pemerintah kotanya silih berganti dan kondisi masyarakatnya sangat majemuk, baik dari suku bangsa, ras dan agama berikut berbagai aspek kehidupannya, warga kotanya tetap membangun tempat bermukim dan berkehidupan mereka sesuai dengan kemampuan dana, daya dan teknologi yang mereka miliki.

Sejarah Kota Jakarta

Peta Batavia tahun 1897, Muhammad Isa Ansyari SS mengungkapkan sejarah kota Jakarta dimulai dengan terbentuknya sebuah pemukiman di muara Ciliwung. Menurut berita Kerajaan Portugal pada awal abad ke-15, pemukiman tersebut bernama "Kalapa" dan merupakan sebuah Bandar penting di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, yang pusatnya pada waktu itu berada di Kota Bogor.

"Di Kerajaan Pajajaran, Bogor, itu kini masih terdapat prasasti peninggalan abad ke-16. Nama prasasti itu "Sato Tulis", peninggalan Rahyang Niskala Watu Kencana, Namun oleh orang Eropa Bandar tersebut lebih dikenal dengan nama Sunda Kalapa, karena berada di bawah kekuasaan Sunda," kata Muhammad Isa Ansyari SS.

Dalam sejarah, ujar Sejarawan Terkemuka Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemda OKI Jakarta itu, Bandar Malaka ditaklukkan Kerajaan Portugal pada 1511. Tujuan Portugal ketika itu adalah mencari jalur laut untuk mencapai kepulauan Maluku, sumber rempah-rempah. Maka pada 1522 mendaratlah kapal utusan dari Malaka di bawah pimpinan Francesco De Sa.

Menurut laporan Francesco De Sa terjadi perundingan dengan pemuka Bandar Kalapa yang berada di bawah kekuasaan Raja Sunda yang beragama Hindu.

Sementara itu di Jawa Tengan dengan surutnya Kerajaan Majapahit berkembanglah Kerajaan Islam di Demak. Kerajaan Islam itu kemudian menyerang Kerajaan Sunda di Jawa Barat meliputi Cirebon, Banten, Kalapa dan lain-lain. Mengingat kurangnya sumber-sumber asli Jawa Tengah tnengenai peristiwa itu, maka kita terpaksa berpaling kepada berita Kerajaan Portugal yang pada akhirnya tidak saja berlabuh di Maluku tetapi juga Kerajaan Portugal ini merapatdi Timor Timur, menyatakan bahwa pada 1526-1527 sebuah armada Portugal telah mengunjungi Sunda Kalapa untuk memenuni perfanjian tahun 1522.

"Ternyata mereka belum mengetahui bahwa telah terjadi perubahan kekuasaan dari Kerajaan Pajajaran ke Kerajaan Banten, yaltu orang-orang dari Jawa Tengah yang beragama Islam .Ivlenurut berita yang mereka dapat, nama Pangtima yang diberikan adalah Falatehan, sebutan mereka untuk nama Fatahillah," ujar Muhammad Isa Ansyari SS.

Masa Prasejarah

Di beberapa tempat di Jakarta seperti Pasar Minggu, Pasar Rebo, Jatinegara, Karet, Kebayoran, Kebon Sirih, Kebon Nanas, Cawang, Kebon Pala, Rawa Belong, Rawa Lefe, Rawa Bangke, ditemukan benda-benda pra sejarah seperti kapak, beliung, gurdi, dan pahat dari batu. Alat-alat tersebut berasal dari zaman batu atau zaman neolitikum antara tahun 1000 SM. Jadi, pada masa itu sudah ada kehidupan manusia di Jakarta.

"Dan seperti daerah latnnya, di Jakarta juga ditemukan prasasti. Prasasti Tugu ditemukan di Cilineing. Prasasti itu sarat informasi tentang Kerajaan Tarumanegara dengan Raja Purnawarman. Menurut prasasti itu, Jakarta merupakan wilayah Kerajaan Tarumanegara, kerajaan tertua di Puiau Jawa, di samping Bogor, Banten, Bekasi sampai Citarum di sebelah timur dan Giaruten," kata Muhammad isa Ansyari SS.

Kronologis Peristiwa Penting

Pada 686 Masehi. Kerajaan Tarumanegara hancur akibat serangan balatentara Kerajaan Sriwijaya. Abad ke-14, Jakarta masuk ke wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran yang sering disebtit Kerajaan Pajajaran, atau Kerajaan Sunda. Kerajaan Pajajaran memiiiki enam petabuhan, diantaranya pelabuhan Sunda Kalapa. Kota pelabuhan ini terletak di Teluk Jakarta - di muara sungai Citiwung - yang merupakan pusat perdagangan paling penting seiak abad ke-12 hingga ke-16.

Senin, 21 Agustus 1522. Begitu pentingnya, Sunda Kalapa tak luput dari incaran orang-orana Portugis yang sejak tahun 1511 sudah bercokol di daratan Malaka. Keinginan mereka mendapatkan sambutan baik dari Raja Pajajaran. Selain berkepentingan soal perdagangan, Raja Pajajaran juga bermaksud meminta bantuan orang-orang Portugis dalam menghadapi orang-orang Islam, yang sudah banyak pengikutnya di Banten dan Cirebon. Demak, kala itu, sudah menjadi pusat kekuatan dan penyebaran agama Islam.

Perjanjian kerjasama pun ditandatangani antara Raja Pajajaran dan orang Portugis. Isinya orang Portugis ditzinkan mendirikan benteng di Sunda Kalapa, yang ditandai di tepi sungai Ciliwung. Rabu 22 Juni 1527. Perjanjian itu tak dapat diterima Demak, Kerajaan Islam yang saat itu sedang berada di puncak kejayaan.

"Sultan Demak mengirimkan balatentaranya, yang dipimpin sendiri oleh menantunya, Fatahillah. Pasukan Fatahillah berhasil menduduki Sunda Kalapa pada 1527. Tatkala armada Portugal datang, pasukan Fatahillah menghaneurkannya. Sia-sia armada Portugal itu hengkang Ke Malaka," ujar Muhammad Isa Ansyari SS.

Dengan kemenangan itu Fatahillah menggantt nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Artinya "Kemenangan Berjaya”. Itulah peristiwa bersejarah yang ditetapkan sebagai 'hari jadl' Kota Jakarta. Kekuasaan Jayakarta akhirnya berada di tangan Fatahillah, dan makin meluas sampai ke Banten menjadi Kerajaan Islam.

Tahun 1595. Cornells de Houtman dan anak buahnya tiba di perairan Banten. Orang-orang Belanda itu datang mencari rempah-rempah. Persaingan di antara mereka makin ketat dibumbui permusuhan.

Rabu 20 Maret 1602 seorang token dan negarawan Kerajaan Belanda, Johati van Oldenbarneveld, mengambil suatu prakarsa mengumpulkan para pedagang Belanda dalam suatu wadah. Berdirilah serikat dagang Verenigde Oost Indische Compaqnie atau VOC. VOC merupakan wadah konglomerat zaman dulu.

Tahun 1617. Orang-orang Kerajaan Belanda diizinkan berdagang di Jayakarta. Mereka memperoleh sebidang tanah di sebelah timur sungai Ciliwung, di perkampungan Cina. Di situ mereka membangun kantor dan benteng. Kubu pertahanan Kerajaan Belanda itu tak disukai orang Jayakarta, Banten maupun Kerajaan Inggris. Mereka kemudian berperang.

Tahun 1619. Terjadi pertempuran sengit segitiga antara Kerajaan Belanda, Kerajaan Inggris dan Kerajaan Portugal di pelabuhan Sunda Kalapa. Suasana Teluk Jayakarta itu sekejab menjadi merah api dan merah darah. Di laut teluk banyak bergelimpangan mayat-mayat serdadu Kerajaan Belanda dan Kerajaan Portugal setelah kedua negara kerajaan itu habis digempur pasukan laut Kerajaan Inggris. Inggris menang dalam perang itu.

Kamis, 30 Mei 1619, JP Goen menaklukkan kembali sekaligus menguasai Jayakarta. Saat itu armada Kerajaan Inggris sudah tidak ada lagi karena telah berangkat berlayar menuju Australia, meninggalkan Jayakarta. Sedang armada (laut Kerajaan Portugal pergi menuju ke wilayah ujung timur Nusantara, tepatnya di Timor Timur.

"Jayakarta pada tahun tersebut memasuki lembaran baru. Nama Jayakarta diubah Kerajaan Belanda menjadi Batavia. Nama Batavia ini berasal dari nama Batavieren, bangsa Eropa yang menjadi nenekmoyang Kerajaan Belanda," tukas Muhammad Isa Ansyari SS.

VOC mula-mula menjadikan Batavia sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan. Dengan kepiawaian kompeni lewat intrik dan politik adu domba atau cfewtte et impera terhadap raja-raja di Nusantara. Seluruh wilayah Nusantara dijarahnya. Kejayaannya pun berlangsung cukup lama.

Tahun 1798. VOC jatuh dan dibubarkan. Kekuasaan, harta benda dan utangnya yartg 134,7 juta gulden diambil alih Pemerintahan Kerajaan Belanda. Rabu, 1 Januari 1800, Indonesia sejak itu diperintah langsung oleh Pemerintah Kerajaan Belanda. Suatu majelis untuk urusan jajahan Asia lalu didirikan.

Namun, awal Maret 1942, Kerajaan Jepang merebut kekuasaan dari Kerajaan Belanda pada Perang Dunia ke-2. Nama Batavia dikubur balatentara Kerajaan Jepang. Dan, nama Jakarta menggantikannya sampai sekarang. 


Obyek/Tempat Wisata Terkenal Di Jakarta



1. TMII ( Taman Mini Indonesia Indah )

TMMI terdapat kekayaan budaya miniatur indonesia dari sabang hingga merauke. Ini yaitu obyek wisata yang disebut area rangkaian keragaman budaya serta pesona suku yang tinggal di kepulauan indonesia. wisatawan yang berkunjung TMMI bisa lihat beragam platform rumah kebiasaan, baju kebiasaan, benda-benda suci suku spesifik, untuk seni serta tari budaya dari 33 provinsi di indonesia.


Bukan sekedar itu, TMMI yaitu di antara obyek wisata di jakarta dengan tempat terluas. Anda tidak akan menjelajahi tempat-tempat wisata yang unik di jakarta cuma didalam 1 hari. TMMI mempunyai sebanyak museum seni serta budaya untuk siswa. contohnya, kerajinan serta museum rekayasa, museum reptil, museum burung, serta teater keong mas. Pada saat-waktu spesifik di TMMI , diadakan festival seni budaya nasional dengan tema spesifik.


2. Taman Impian Jaya Ancol


Ancol adalah tempat wisata popular di jakarta utara sejak berdirinya pada th. 1966, ancol bay city atau juga dikenal sebagai taman yang dimimpikan jaya ancol yaitu yang terbesar serta sangat menarik dari taman rekreasi di jakarta. ancol terdiri dari lapangan golf, taman hiburan, hotel, klub malam, serta kolam renang. Tterdapat di utara jakarta di tempat reklamasi di teluk jakarta. Berkunjung ke ancol dapat berikan tawa serta kebahagiaan berbarengan rekan maupun keluarga dengan beragam area rekreasi yang dapat dikunjungi.


Tempat wisata di Taman Impian Jaya Ancol :



  1. Dunia Fantasi (Dufan). Tempat wisata dengan lebih dari 40 wahana permainan dan atraksi. Harga tiket untuk masuk ke Dunia Fantasi adalah Rp 135.000 per orang pada hari kerja.
  2. Atlantis Water adventure. Lima hektar taman air besar bertema kota mitologi Atlantis dengan kolam ombak, kolam air terjun, slide, kolam renang anak-anak, dan restoran.
  3. Ancol Bay City.
  4. Sea World. Salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara menampilkan kolam untuk buaya dan hiu, dan kolam permainan untuk sahabat laut.
  5. Pasar Seni. Sebuah pasar seni yang dalam perjalanannya selama 25 tahun telah menjadi pusat kerajinan dan produk seni lainnya, serta sebagai pusat bagi seniman untuk secara langsung membuat dan menjual produk mereka
  6. Executive Golf Fun, 18 hole lapangan golf internasional pantai Ancol.
  7. Pantai. Dalam resor Anda dapat menemukan pantai Karnaval dan pantai Festival.



3. Monas ( Monumen Nasional )


Monas yaitu di antara pusat hiburan kota. Monumen nasional jadi ikon kota jakarta. Puncak monas yang dilapis emas serta tampak bercahaya terang pada malam hari. Objek wisata ini adalah area berkumpul orang-orang dari status sosial yang bermacam. Kerap dipakai sebagai pusat seni serta budaya acara festival yang dapat di nikmati oleh masyarakat umum dengan gratis.


Didalam kompleks monumen, ada museum gajah mada. Museum ini mempunyai beragam kekayaan seni serta budaya dari properti bersejarah indonesia. Benda purbakala yang ditemukan di indonesia, banyak yang disimpan di monas. Lantas janganlah ragu-ragu untuk berkunjung ke monas serta amat direkomendasikan untuk mahasiswa yang pingin pelajari kekayaan budaya indonesia dari zaman prasejarah hingga saat ini. Monas kerap dipakai untuk jadi tuan rumah acara olahraga nasional serta internasional.


4. Kebun Binatang Ragunan


Kebun binatang ragunan yaitu kebun binatang pertama di indonesia. Kebun binatang ini didirikan pada th. 1864 dengan nama planten en dierentuin, yang bermakna tanaman serta kebun binatang. Pemprov dki jakarta menyumbangkan 30 hektar tempat yang disebut rumah ke kebun binatang. Gubernur dki jakarta ali sadikin resmikan taman margasatwa ragunan pada 22 juni 1966. Sekarang ini kebun binatang ragunan terdapat di ragunan, pasar minggu, jakarta selatan, indonesia. Kebun binatang seluas 140 hektar, dengan beragam koleksi yang terdiri dari 295 spesies serta 4040 spesimen.


5. Kota Tua


Kota tua juga dikenal sebagai old batavia. kota tua jakarta atau akrab disapa old town yaitu tempat kecil di jakarta yang mempunyai luas 1, 3 km. Persegi melintasi jakarta utara serta jakarta barat, meliputi tempat pinangsia, taman sari serta roa malaka. Kota tua yaitu area yang tetap kuat dengan histori serta budaya dari belanda serta cina.


Kota tua menghidangkan situasi antik khas kota tua dengan banyak bangunan serta museum bersejarah, disamping itu kita juga dapat nikmati wisata bahari, wisata belanja, wisata histori serta budaya, rekreasi serta hiburan, serta wisata dengan ketertarikan spesial.


Kuliner Khas Kota Jakarta


Kerak Telor


Kerak telor merupakan makanan khas Jakarta yang cukup terkenal. Namun, saat ini sudah agak sulit mencari penjual kerak telor. Biasanya, makanan yang terbuat dari beras ketan putih ini dapat ditemui dengan mudah jika ada acara khusus, salah satunya adalah di Pekan Raya Jakarta (PRJ).


Kerak telor memiliki cita rasa yang gurih, dan dapat pula menggunakan telur ayam atau beber sesuai selera Anda. Makanan yang dimasak diatas tungku tanah liat ini sedap disantap saat masih panas.


Asinan Betawi


Nah, makanan ini adalah salah satu yang paling dicari dan dirindukan oleh masyarakat Jakarta. Kesegaran makanan yang terdiri dari campuran beragam sayuran mentah, sawi asin, potongan tahu mentah serta kerupuk kuning ini disiram dengan bumbu kacang yang rasanya tak membuat lidah bosan merasakannya.


Kue Pancong


Kue pancong adalah salah satu jajanan tradisional khas Jakarta yang masih diminati hingga saat ini. Penampilan yang hampir sama dengan kue pukis ini kadang dapat mengecoh mata. Yang membedakan kedua kue tersebut adalah rasa dan bahannya. Jika rasa kue pukis manis, maka kue pancong memiliki cita rasa gurih. Dengan tekstur kasar dari parutan kelapa yang ada didalamnya ketika gigitan kue pancong mendarat dimulut Anda.


Jika Anda menyukai makanan manis, jangan khawatir kue pancong biasanya dimakan dengan membubuhkan gula pasir diatasnya. Namun, kue pancong dapat dinikmati dengan atau tanpa gula pasir semua tergantung selera


Sayur Babanci

Anda adalah orang Betawi asli? Nah, jangan mengaku orang Betawi jika belum pernah mencicipi makanan yang satu ini. Dinamakan sayur babanci karena memang segala macam jenis sayuran terdapat di dalamnya.  Sayur yang sudah sangat jarang dapat kita temui di Jakarta ini kaya akan rempah-rempah dan memiliki cita rasa gurih. Bagi Anda pecinta kuliner, sayur ini sangat cocok untuk menggugah selera makan Anda dan membuat makanan ini wajib untuk dicoba.
ASAL USUL KOTA PADANG

Kota Padang adalah kota terbesar di pesisir barat pulau Sumatera sekaligus ibu kota dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini memiliki wilayah seluas 694,96 km² dengan kondisi geografi berupa daerah perbukitan yang ketinggiannya mencapai 1.853 m dpl. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 833.562 jiwa yang didominasi oleh etnis Minangkabau. Agama yang dianut masyarakat di kota ini mayoritas Islam.

Sejarah kota Padang tidak terlepas dari peranannya sebagai kawasan rantau Minangkabau, yang berawal dari perkampungan nelayan di muara Batang Arau lalu berkembang menjadi bandar pelabuhan yang ramai setelah masuknya Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Hari jadi kota ini ditetapkan pada 7 Agustus 1669, yang merupakan hari terjadinya pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan monopoli VOC. Selama penjajahan Belanda, kota ini menjadi pusat perdagangan emas, teh, kopi, dan rempah-rempah. Memasuki abad ke-20, ekspor batu bara dan semen mulai dilakukan melalui pelabuhan Teluk Bayur.

Saat ini Kota Padang menjadi pusat perekonomian karena memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Sumatera Barat. Selain itu, kota ini juga menjadi pusat pendidikan dan kesehatan, disebabkan jumlah perguruan tinggi dan fasilitas kesehatan yang lebih banyak dibandingkan kota atau kabupaten lain di Sumatera Barat. Di kalangan masyarakat Indonesia, nama kota ini banyak dikenal sebagai sebutan lain untuk etnis Minangkabau, dan juga digunakan untuk menyebut masakan khas mereka yang umumnya dikenal sebagai Masakan Padang.

Tidak ada data yang pasti siapa yang memberi nama kota ini Padang. Diperkirakan kota ini pada awalnya berupa sebuah lapangan atau dataran yang sangat luas sehingga dinamakan Padang. Dalam bahasa Minang, kata "padang" juga dapat bermaksud pedang. Menurut tambo setempat, kawasan kota ini dahulunya merupakan bagian dari kawasan rantau yang didirikan oleh para perantau Minangkabau dari Dataran Tinggi Minangkabau (darek). Tempat pemukiman pertama mereka adalah perkampungan di pinggiran selatan Batang Arau di tempat yang sekarang bernama Seberang Padang. Seperti kawasan rantau Minangkabau lainnya, pada awalnya kawasan sepanjang pesisir barat Sumatera berada di bawah pengaruh Kerajaan Pagaruyung. Namun pada awal abad ke-17, kawasan ini telah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

Kota Padang telah dikunjungi oleh pelaut Inggris pada tahun 1649, kemudian mulai berkembang sejak kehadiran VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1663 yang diiringi dengan migrasi penduduk Minangkabau dari kawasan luhak. Selain memiliki muara yang bagus, VOC tertarik membangun pelabuhan dan pemukiman baru di pesisir barat Sumatera untuk memudahkan akses perdagangan dengan kawasan pedalaman Minangkabau. Selanjutnya pada tahun 1668, VOC telah berhasil mengusir pengaruh Kesultanan Aceh dan menanamkan pengaruhnya di sepanjang pantai barat Sumatera, sebagaimana diketahui dari surat Regent Jacob Pits kepada Raja Pagaruyung yang berisi permintaan dilakukannya hubungan dagang kembali dan mendistribusikan emas ke kota ini. Dalam perkembangan selanjutnya, pada 7 Agustus 1669 terjadi pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan monopoli VOC. Meski dapat diredam oleh VOC, peristiwa tersebut kemudian diabadikan sebagai tahun lahir Kota Padang.

Beberapa bangsa Eropa lain juga silih berganti mengambil alih kekuasaan di Kota Padang. Pada tahun 1781, akibat rentetan Perang Inggris-Belanda Keempat, Inggris berhasil menguasai kota ini. Namun setelah ditandatanganinya Perjanjian Paris pada tahun 1784 kota ini dikembalikan kepada VOC. Pada tahun 1793 kota ini sempat dijarah dan dikuasai oleh seorang bajak laut dari Perancis yang bermarkas di Mauritius bernama François Thomas Le Même, yang keberhasilannya diapresiasi oleh pemerintah Perancis waktu itu dengan memberikannya penghargaan. Kemudian pada tahun 1795, Kota Padang kembali diambil alih oleh Inggris. Namun setelah peperangan era Napoleon, pada tahun 1819 Belanda mengklaim kembali kawasan ini yang kemudian dikukuhkan melalui Traktat London, yang ditandatangani pada 17 Maret 1824.

Pada tahun 1833, Residen James du Puy melaporkan terjadi gempa bumi yang diperkirakan berkekuatan 8.6–8.9 skala Richter di Padang yang menimbulkan tsunami. Sebelumnya pada tahun 1797, juga diperkirakan oleh para ahli pernah terjadi gempa bumi berkekuatan 8.5–8.7 skala Richter, yang juga menimbulkan tsunami di pesisir kota Padang dan menyebabkan kerusakan pada kawasan pantai Air Manis.

Pada tahun 1837, pemerintah Hindia-Belanda menjadikan Padang sebagai pusat pemerintahan wilayah Pesisir Barat Sumatera (Sumatra's Westkust) yang wilayahnya meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli sekarang. Selanjutnya kota ini menjadi daerah gemeente sejak 1 April 1906 setelah keluarnya ordonansi (STAL 1906 No.151) pada 1 Maret 1906.

Menjelang masuknya tentara pendudukan Jepang pada 17 Maret 1942, Kota Padang telah ditinggalkan begitu saja oleh Belanda karena kepanikan mereka. Pada saat bersamaan Soekarno sempat tertahan di kota ini karena pihak Belanda waktu itu ingin membawanya turut serta melarikan diri ke Australia.[22] Kemudian panglima Angkatan Darat Jepang untuk Sumatera menemuinya untuk merundingkan nasib Indonesia selanjutnya.[23] Setelah Jepang dapat mengendalikan situasi, kota ini kemudian dijadikan sebagai kota administratif untuk urusan pembangunan dan pekerjaan umum.

Berita kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 baru sampai ke Kota Padang sekitar akhir bulan Agustus. Namun pada 10 Oktober 1945 tentara Sekutu telah masuk ke Kota Padang melalui pelabuhan Teluk Bayur, dan kemudian kota ini diduduki selama 15 bulan.

Pada 9 Maret 1950, Kota Padang dikembalikan ke tangan Republik Indonesia setelah sebelumnya menjadi negara bagian RIS melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) nomor 111. Kemudian, berdasarkan Undang-undang Nomor 225 tahun 1948, Gubernur Sumatera Tengah waktu itu melalui surat keputusan nomor 65/GP-50, pada 15 Agustus 1950 menetapkan perluasan wilayah Kota Padang. Pada 29 Mei 1958, Gubernur Sumatera Barat melalui Surat Keputusan Nomor 1/g/PD/1958, secara de facto menetapkan Padang menjadi ibu kota provinsi Sumatera Barat, dan secara de jure pada tahun 1975, yang ditandai dengan keluarnya Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah. Kemudian, setelah menampung segala aspirasi dan kebutuhan masyarakat setempat, pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 1980, yang menetapkan perubahan batas-batas wilayah Kota Padang sebagai pemerintah daerah. 
SEJARAH ASAL MULA BANGSA ACEH

Konon keturunan bangsa Aceh adalah dari tanah Persia. Seperti kita sering dengar kepanjangan ACEH sebagai Arab, China, Eropa, dan Hindustan (India). Namun sampai sekarang jarang para sarjana yang mengangkat kisah seperti ini. Hanya Affan Jamuda dan A.B. Lila Wangsa yang menulis “Peungajaran Peuturi Droe Keudroe (Pelajaran mengenal diri sendiri)” menyebutkan: Wangsa Acheh saboh wangsa nyang jak meunanggroe rot blah barat pulo Ruja. Wangsa nyan asai phon nibak wangsa Achemenia, Wangsa Achemenia nyang asai jih phon bah binak buket Kaukasus di Europa teungoh. Wangsa Achemenia nyang hudep bak thon 2500 GM (gohlom masehi). Wangsa Achemenia saboh wangsa nyang harok meurantoe, sampoe wangsa nyang meusipreuk bansaboh Asia, Afrika, Europa ngon pulo Ruja. Nyang saboh turonan neuweh u tanoh Parsi jeut keuwangsa Parsia, nyang sabih suke neuweh u pulo Ruja, dudoe teuma jeut keu-wangsa Acheh.Wangsa Acheh asai phon nibak wangsa Achemenia-Parsia-Acheh, Affan Jamuda and AB. Lila Wangsa, Peungajaran Peuturi Droe Keudroe (Pidie: Angkasa Muda, 2000).

Terjemahannya; Bangsa Aceh adalah satu bangsa yang membangun negeri di sebelah barat Pulau Ruja (Sumatera). Bangsa ini asalnya dari bangsa Achemenia, bangsa Achemenis berasal dari sebuah bukit Kaukasus di Eropa Tengah. Bangsa Achemenia hidup sekitar 2500 Tahun sebelum Masehi. Bangsa Achemenia satu bangsa yang suka merantau, sampai bangsa ini tersebar di seluruh Asia, Afrika, Eropa dan juga Pulau Ruja. Satu keturunan pindah ke tanah Persia, kemudian menjadi bangsa Persia, yang satu suku lagi pindah ke Pulau Ruja, kemudian lahir bangsa Aceh. Bangsa Aceh pertama sekali berasal dari bangsa Achemenia-Parsia-Acheh). Tentu saja itu bukan sebuah kebetulan, jika kemudian kita temukan akar sejarah migrasi manusia dari Persia, bahkan sebelum Raja Darius (521-486 Sebelum Masehi) yang menguasai Persia, konon beragama Zoroasther. Raja ini menyebarkan sayap pemerintahannya sampai Eropa, Anatolia, Mesir, Mesopotamia, dan India Barat.
Dalam buku A History of World Societies disebutkan bahwa: “They had created “world empire” encompassing of the oldest and most honored kingdoms and peoples of the ancient Near East.” Jadi, ada benarnya bahwa penggalan lagu Rafly di atas, yaitu “Beek tabeoh kada wangsa meutuwah; turounan meugah meuri-ri wangsa; khujja ngoen majja lakap geupajah; turoenan meugah dorius raja”. Sampai sekarang, bukti sejarah ini memang masih mengundang sejumlah tanda tanya. Sebab, di dalam sejarah, selalu disebutkan nama Parsia di dalam sejarah Aceh, namun jarang yang bisa menarik kembali kemana arah sejarah Aceh sebelum Masehi atau sebelum Islâm datang ke daerah ini. Pada masa Darius dan anaknya Xerxes (486-464 Sebelum Masehi), mereka telah membangun suatu monarki kekuasaan, yang ternyata telah disebutkan sebagai “world empire” (kerajaan dunia) hingga menjadi cikal bakal beberapa kerajaan di Timur Tengah.
Kemudian Jamuda dan Lilawangsa menulis: hon teuka di tanoh Parsi (Iran-Irak jinoe). Sabab musabab neueuka sampoe roh neumeunanggroe lam pulo ruja. Bak zameun Raja Dorius neumat keurajeun di Parsia, lam masa nyang kuasa keurajeun Raja Dorius luah lagoina mulai di Meuser troh u Hindi ngan lam pula Ruja. Lam masa nyan keu wangsa-ureung bako-bako di nanggroe Parsia neujak duek u nanggroe blah barat pulo Ruja nyang dudoe neulakap Nanggroe Aceh. Yoh goh nyang lam tanoh Acheh kana Aulia-Aulia Allah, nyang sahe naggroe Acheh milek harta Aulia-Aulia Allah (Bangsa Persia sebelum menjadi bangsa Aceh, pertama kali datang di tanoh Parsia (Iran-Irak sekarang). Sebab datangsampai membangun negeri di Pulau Ruja. Pada masa zaman Raja Darius memegang tampuk kekuasaan di Persia, pada waktu itu wilayah kekuasaan Raja Darius sangatlah luas sekali mulai dari Mesir hingga ke India sampai ke Pulau Ruja.
Pada zaman itu berbagai bangsa di negeri Persia berangkat menetap di sebelah Barat Pulau Ruja kemudian diberinama Nanggroe Aceh. Sebelum itu di tanah Aceh sudah ada wali-wali Allah, yang jaga negeri Aceh milik harta-harta Aulia Allah). Jadi, dapat dipastikan bahwa asal usul indatu orang Aceh adalah dari Parsia yang datang ke Pulau Ruja, sebuah pulau yang kemudian diberi nama Aceh. Namun yang menarik adalah jika benar pada zaman Raja Darius yang beragama Zoroasther sudah ada Wali-Wali Allah di Aceh, maka pertanyaannya adalah apa benar sudah ada agama yang menyembah Allah sebelum Masehi. Sebab ungkapan bahwa Aceh milik atau tanah para Wali juga ditemukan dalam ungkapan lagu Rafly berikut, Han geu meu kafe ureung Aceh nyang/ ’Saweub bumoe nyang tanoh Aulia/ Geutem sut nyawong peudong kheun Allah/ Kameunan reusam geutung pusaka… (Tidak akan menjadi Kafir orang Aceh itu/Sebab bumi ini adalah tanah Aulia/ Rela mengeluarkan nyawa untuk mempertahankan kalimah Allah/ Begitu adat yang diambil sebagai pusaka). Sayangnya semua sejarah itu masih berupa catatan perang. Kegemilangan Aceh sebagai salah satu kerajaan besar hanya cerita manis.
Ada yang menarik tentang Aceh, yakni simbol agama yang dikekalkan dalam suasana dayah, sebagai pusat sumber ilmu agama Islam tempoe doeloe. Ketika Aceh hendak dijajah, semua suku dan ulama di Aceh sepakat melawan penjajahan. Karena itu, konsep kebencian orang Aceh terhadap penjajahan, bukan karena kebencian etnisitas atau sejarah, tetapi karena melawan penindasan atau penjajahan merupakan jihad. Hal itu dibuktikan oleh Tgk Chik Pantee Kulu dengan karyanya kitab Hikayat Prang Sabi yaitu membakar semangat orang Aceh melawan penjajah dengan ideologi agama.
Dalam konteks etnis, orang Aceh adalah orang yang berjiwa kosmopolitan alias bisa menerima siapa saja atau suku bangsa apapun. Untuk mengelompokkan etnisitas, sistem kerajaan Aceh menyusun kependudukan berdasarkan negeri asal suku bangsa tersebut, sebagaimana dilukiskan dalam hadih maja “Sukee lhee reuthoh bak aneuk drang, Sukee ja sandang jeura haleuba, Sukee tok bate na bacut bacut, Sukee imuem peut yang gok-gok donya”. Sukee di sini dalam kata lain artinya suku sehingga hadih maja ini menggambarkan keragaman suku bangsa di dunia yang berdomisili di Aceh. Semuanya berhasil disatukan oleh sultan Alaidin Riayatsyah Al Qahhar (1537-1565) di bawah panji Islam dan terayomi di bawah payung kerajaan Aceh Darussalam.
Mengenai asal usul masyarakat Aceh, HM. Zainuddin (1961), mengatakan bahwa orang dari suku Batak/Karee membentuk kaum Lhee Reutoih. Orang asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, Keling (dagang), Melayu semenanjung, Bugis membentuk kaum Tok Batee Sultan berasal dari kaum Tok Batee. Kaum percampuran dari Hindu dan Batak Karee membentuk group baru menjadi kaum Ja Sandang. Pimpinannya diberi gelar dengan panglima kaum dengan gelar kaum imeum peut. Sedangkan orang Gayo, sebagaimana dikutip Gerini (HM. Zainuddin, 1961) menghubungkannya dengan Dagroian sesuai dengan catatan- catatan Marcopolo. Menurutnya, Dagroian berasal dari kata-kata drang – gayu, yang berarti orang Gayo. Masyarakat tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan itu bisa saja berpunca di dalam masyarakat itu sendiri atau bersumber dari luar lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Aceh mempunyai comparative advantage karena menjadi pusaran dunia, transit pertama sebelum ke bagian Nusantara.
Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa dalam sejarah kebudayaan Aceh, persoalan bersatu dan berpisah adalah hal yang sangat biasa. Artinya, mereka bisa bersatu dengan kelompok manapun,namun budaya yang sudah mengakar yang dibalut dengan kualitas tradisi Islam tidak akan pernah dapat dihentikan. Jiwa nasionalisme orang Aceh yang menjadi bagian dari Indonesia merupakan satu nafas dalam perjuangan mereka, sejauh itu tidak dikhianati. Adapun nasionalisme di Indonesia walaupun masih didominasi oleh pemahaman kebudayaan Jawa, agaknya memang telah mewariskan persoalan sejarah yang tercecer. Artinya, sejarah nasionalisme di Indonesia adalah sejarah yang dikendalikan oleh pemerintah. Sehingga dinamika kebudayaan di daerah dianggap sebagai ‘aset’ bukan pelaku utama, untuk tidak mengatakan mereka tidak memberikan arti yang signifikan. Hal ini belum lagi dimana ‘aset’ budaya Indonesia cenderung dijadikan sebagai objek untuk kepentingan sosial politik, bukan kepentingan kebudayaan bangsa Indonesia.



ASAL USUL KOTA CIANJUR

Pada suatu ketika, Pak Kikir merasa harus mengadakan selamatan. Menurut kepercayaan masyarakat, kalau cara selamatan dilakukan dengan baik, hasil panen akan baik pula. Pak Kikir tak ingin panennya gagal. Oleh karena itu, ia mengadakan selamatan dan mengundang seluruh warga.

Namun, Pak Kikir tidak menyediakan makan yang cukup bagi tamu sebagian besar warga tak mampu. Banyak tamu yang tidak kebagian makanan.

Lalu, datanglah seorang nenek pengemis. Ia meminta sedikit nasi untuk mengisi perutnya yang lapar, Namun si nenek malah dibentak olah Pak Kikir.

Nenek itu sangat sedih. Ia pun meninggalkan rumah Pak Kikir.

Anak pak Kikir yang melihat kejadian itu langsung mengambil jatah makannya dan mengejar nenek itu. "Ambillah makanan ini supaya Nenek tidak lapar lagi," kata pemuda baik hati itu.

"Terima kasih, Nak atas kebaikanmu. Kelak kau akan mendapatkan kebaikan dan  keselamatan karena sifatmu," kata si Nenek.

Nenek itu masih sakit hati pada pak Kikir. Lalu pergilah ia ke puncak bukit. Dari puncak bukit itu, tampaklah rumah pak Kikir paling besar dan paling megah di antara rumah warga sekitarnya.

Nenek itu berucap lantang. "Ingatlah, pak Kikir ketamakanmu akan menenggelamkan dirimu dan Tuhan akan membalas perbuatanmu!"

Si Nenek menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu mencabutnya lagi. Dari bekas tancapan tongkat itu, mengalirlah air yang semakin lama semakin deras menuju ke desa.

"Banjir! Banjir!" Para penduduk berteriak panik melihat air yang mengalir semakin deras menuju desa mereka. Mereka berlarian menyelamatkan keluarga mereka.

Anak pak Kikir pun segera memperingati semua penduduk agar mencari tempat aman. Ia juga mengajak ayahnya untuk meninggalkan rumah.

"Apa? Meningalkan rumah ini? Tidak ! Aku harus menyelamatkan harta yang kusimpan di bawah tanah!" seru pak Kikir. Ia pun berlari ke ruang bawah tanah dirumahnya.

Air semakin deras. Karena tak ada waktu lagi untuk menunggu ayahnya, anak pak Kikir pun berlari menyelamatkan diri ke atas bukit. Air bah itu pun segera menenggelamkan seluruh desa.

Anak pak Kikir dan sebagian penduduk selamat. Pak Kikir tenggelam bersama rumah dan harta bendanya. Para penduduk sangat sedih melihat desa yang tenggelam. Mereka memutuskan mencari daerah baru untuk tempat tinggal. Anak pak Kikir diangkat sebagai pimpinan.

Di daerah yang baru, anak pak Kikir menganjurkan penduduk mengolah tanah, bagaimana mengairi sawah dan menanam padi yang baik.

Desa baru itu lalu diberi nama "Anjuran" karena penduduk selalu mematuhi anjuran pemimpin mereka. Lama-kelamaan, desa itu berkembang menjadi sebuah kota kecil yang bernama "Cianjur". Ci artinya "air". Menurut cerita Cianjur berarti anjuran untuk mengairi dan membuat irigasi yang baik. Hingga sekarang, Cianjur terkenal dengan hasil berasnya yang enak.


ASAL USUL MADURA
Berdiri sebuah kerajaan megah diatas sebuah pegunungan Tengger. Kerjaan tersebut dikenal dengan sebutan kerajaan Madangkamulan. Madangkamulang merupakan sebuah kerajaan yang cukup terkenal pada masa itu terutama ditanah jawa bagian timur. Kerajaan yang sangat megah ini diperintah dan dipimpin oleh seorang raja yang sangat dihormati, disegani dan juga ditaati oleh seluruh rakyatnya. Raja tersebut bernama Prabu Gilingwesi. Untuk menjalankan pemerintahan dalam kerajaannya, Prabu Gilingwesi dibantu oleh seorang menteri cerdas dan cerdik yang bernama Patih Pranggulang.
Kehidupan dikerajaan Madangkamulan sangat adil dan makmur. Meskipun kerajaan tersebut adil dan makmur, ada satu hal yang membuat Prabu Gilingwesi agak bersusah hati. Hal tersebut dirasakannya karena Putri semata wayangnya yang sangat cantik jelita bernama Raden Ayu Tanjungsekar tidak mau memiliki suami. Padahal sudah banyak lamaran dari para putra raja dari kerajaan-kerajaan tetangga, setiap ada putra raja yang datang dengan untuk mempersuntingnya pasti sang putri selalu menolaknya, dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah belum waktunya ia berkeluarga.
Suatu malam yang sangat indah. Putri raja yaitu Tanjungsekar sedang tertidur sangat lelap. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi sedang berjalan-jalan ditaman yang sangat indah. Ketika Tanjungsekar menikmati segala keindahan yang terpancar dari taman tersebut, secara tiba-tiba bulan pernama menampakkan kehadirannya diatas langit yang bersih dari awan. Sang putri ketika melihatnya, sungguh dibuat kagum dengan indahnya pancaran sinar bulan yang sangat lembut.
Bulan yang ia lihat. perlahan-lahan turun dan mulai semakin rendah. Tanjungsekar heran dengan kejadian itu. Setelah bulan itu sangat dekat, bulan itu kemudian masuk dalam tubuh Tanjungsekar. Mengalami mimpi seperti itu, Tanjungsekar terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut atas mimpi yang datang menemaninya. Kemudian Tanjungsekar membangunkan penasehatnya, ia menanyakan tentang arti yang hadir dalam mimpinya.
Sang penasehatnya,mengatakan “Mimpi itu hanya bunga tidur saja, tidak yang perlu dirisaukan,”jawab sang penasehat kepada Tanjungsekar. “sebaiknya tuan putri lanjutkan tidurnya saja.”
Beberap bulan kemudian setelah mimpi aneh yang menghampiri Tanjungsekar. Tak disangka dan tak dinyata, tiba-tiba Tanjungsekar Hamil. Untung saja berita itu hanya diketahui oleh beberapa orang dikalangan kerajaan Madangkawulan, belum sampai tersebar ditelinga rakyat kerajaan.
Prabu Gilingwesi sangat terpukul perasaannya mendengar putrinya yang sangat dicintai hamil tanpa suami. Baginda raja yang bijaksana sangat heran mengap hal tersebut bisa terjadi, ia berfikir mengapa ada orang yang bisa masuk kedalam kamar putrinya, padahal penjagaanya sangat ketat sekali.
Kemudian Tanjungsekar dipanggil untuk menghadap baginda raja. Kemudain Tanjungsekar menjelaskan sebenarnya yang ia alami, ia menjelaskan kepada ayahnya bahwa sebelum ia hamil, ia  terlebih dahulu telah mengalami mimpi yang aneh, ada bulan purnama yang masuk kedalam tubuhnya. Akan tetapi, Prabu Gilingwesi tidak percaya begitu saja dengan penjelasan sang putri. Dengan wajah yang sangat marah, baginda raja memanggil menteri kepercayaannya, yaitu Patih Pranggulang.
Dengan nada yang sangat marah.”Patih, bawahlah Tanjungsekar kedalam hutan belantara. Kemudian, bunuhlah ia sebagai hukuma atas perbuatan dosa mencemarkan nama kerajaan Madangkawulan!”
Mendapatkan mandat dari seorang raja, Patih Pranggulangpun berangkat membawa Tanjungsekar menuju hutan. Setelah sehari semalam dalam perjalanan, sampailah mereka berdua disebuah hutan yang jauh dari kerajaan. Putri Tanjungsekar berhenti dan duduk diatas sebuah batu.
“Patih,Silahkan hukuman mati yang diperintahkan oleh raja untukku segeralah engkau laksanakan,” Ujar Tanjungsekar. Tapi ingat, kalau aku tidak bersalah, engkau tidak akan bisa membunuhku.
Patih Pranggulang pun mengambil senjata yaitu sebuah pedang dari sarungnya. Dengan sangat cepat Patih Pranggulang mengyunkan sabetan pedang kearah tubuh Tanjungsekar. Namun yang terjadi, sebelum tubuh Tanjung sekar terkena tajamnya pedang, tiba-tiba pedang yang akan disabetkan ditubunya terjatuh ketanah. Patih Pranggulang pun mengambil pedangnya yang terjatuh. Kemudian dicobanya lagi untuk mengayunkan pedangnya keleher Tanjungsekar, namun pedangnya terjatuh lagi. Tiga kali melakukan hal tersebut, namun gagal terus.
Dengan kejadian itu, Patih Pranggulang menyimpulkan dalam hatinya bahwa Tanjungsekar tidak bersalah sehingga tidak bisa dijatuhi hukuman. Kemudian ia pun bersujud dihadapan Tanjungsekar. Katanya,”Tuan putri sebaiknya segera pergi dari tempat ini. Saya akan membautkan rakit untuk tuan putri, naiklah dan sebrangilah lautan. Saya sendiri akan kembali kekerajaan. Saya akan bertapa sambil mendoakan tuan putri agar selalu dalam lindungan.”
Kemudian Patih Pranggulang membuat rakit, setelah jadi tanjung sekar pun naik diatas rakit tersebut untuk menyeberangi lautan. Perlahan-lahat rakit yang dinaikinya mulai bergerak meninggalkan sisi pantai. Makin lama makin jauh ketengah lautan. Patih pranggulang memperhatikan rakit yang dinaiki sang putri, cukup lama ia berdiri ditepi pantai. Setelah semalam, Patih Pranggulang masuk kedalam hutan. Sejak itu, ia mengganti namanya menjadi Ki Poleng.
Tanjung sekar beserta rakitnya dibawa alur arus laut kearah utara. Beberapa hari terkantung-kantung ditengah lautan. Tanjungsekar pasrah dengan ketentuan Tuhan, ia akan tetap tenang kemanapun rakit yang dinaikinya membawanya.
Suatu malam, bulan kembali purnama. Cahaya yang dipancarkan dari bulan tampak menerangi lautan yang berwarna hitam kebiru-biruan. Ketika bulan purnawa berada pada titik sempurna, tiba-tiba Tanjungsekar meraskan sakit diperutnya. Ternyata ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Lalu, bayi itu dipeluknya dengan hangat penuh kasih sayang. Karena lahir ditengah laut, Tanjungsekar memberi nama anaknya dengan nama Raden Segar. Istilah dijawa khususnya didaerah Madura Sagara artinya adalah Laut.
Setelah beberapa hari terombang-ombing dilautan bersama anaknya, ia melihat pulau. Kemudian rakit yang dinaikinya bergerak semakin mendekat kepulau itu. Melihat pulau tersebut, Tanjungsekar sangat senang sekali karena ia berpikir bahwa akan tinggal dipulau itu bersama anaknya.
Rakit yang dinaikinyapun berhenti ditepi pulau. Tanjungsekar segera turun dengan menggendong Raden Sagara. Setelah menginjakkan kakinya didarat, ada sebuah keajaiban yang terjadi. Raden Sagara meloncat ke tanah sambil berlari kesana kemari. Tubuhnya semakin besar seperti anak yang berumur dua tahunan.
Raden Sagara dan Tanjung sekar terus berjalan menyusuri daratan pantai. Pulau tersebut tampak sepi, mereka tidak menemukan aktivitas manusia disekitar pulau tersebut, hanya hewan-hewan yang melintas dihadapannya.
Setelah berjalan cukup lama, Raden Sagar dan ibunya tiba disuatu tanah yang cukup lapang. Disalah satu tempat ditanah lapang tersebut ada sebatang pohon. Kemudian Raden Sagara mendekati pohon itu. Raden Segara melihat sarang lebah yang besar disalah satu dahan dipohon itu. Saat Raden Sagara mendekat, lebah-lebah itu pergi beterbangan menjauhi sarangnya, seakan-akan memberikan ruang Raden Sagara untuk mengambil madu dan menikmatinya. Raden Sagarpun segera mengambil madu dan segera menikmatinya bersama Tanjungsekar.
Karena mereka berdua menemukan tanah lapang yang cukup luas, dan tempat itu kemudian diberi namaMADURA, yang berasal dari kata maddu e ra-ra. Yang artinya, madu di tanah daratan. Kemudian Tanjungsekar dan putranya tinggal dan menetap dipulau itu. Setelah tumbuh menjadi dewasa, Raden Sagara naik tahta sebagai raja yang kemudian memerintah Pulau Madura.



CERITA RAKYAT ASAL-USUL KOTA SURABAYA



Dahulu kala, di lautan nan luas (tepatnya di Laut Jawa), hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu sura dan seekor buaya. Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah. Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan. "Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu." kata ikan hiu Sura. "Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?" tanya Buaya. "Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!" "Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!" kata Buaya sambil mengangguk. Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya. cerita rakyat asal usul Surabaya " Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?" tanya si Buaya. "Eits... Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?" Kata Sura mengelak. "Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!" jawab Buaya ngotot. "Ohh... Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu ait" jawab Hiu Sura. "Hmm... Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?" hentak Buaya. "Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!" elak Sura. "Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!" jawab Buaya mulai marah. "Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!" serang Sura tak mau mengalah. Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.  cerita rakyat asal usul Surabaya Demikianlah cerita rakyat asal usul Surabaya. Semoga dari cerita tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa peperangan dan perkelahian tidaklah bisa menyelesaikan masalah dan malah justru akan menimbulkan masalah baru. Oleh karenanya, kita perlu arif dan bijaksana dalam menyelesaikan segala problematika kehidupan. yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya. cerita rakyat asal usul Surabaya Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan  untuk memberi nama Surabaya
pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.